Outstanding pembiayaan tumbuh sebesar 77,33 % secara tahunan, meningkat Rp 1,51 triliun menjadi Rp 48,74 triliun berdasarkan data OJK per September 2022.
“Kredit gap masih cukup besar di Indonesia, mengutip data World Bank terakhir ada di US$ 150 juta meningkat setelah COVID-19,” ujar Adrian.
Menurut Adrian, para pelaku P2P lending perlu melihat debitur dari sektor industri mana yang saat ini rentan terhadap faktor-faktor makro yang bisa menyebabkan volatilitas yang lebih tinggi dan memilih sektor-sektor mana yang terus tumbuh.
Baca Juga : Pertumbuhan di Sektor Industri Tekstil, Garmen, dan Sepatu Indonesia Masih Rendah
Saat ini fintech P2P lending juga mulai menyasar ekosistem untuk memberi pinjaman diantaranya umkm yang masuk sektor penyedia barang pemerintah, sektor pertanian, dan sektor ekonomi kreatif.
“Peluangnya ada, tapi kita harus pintar untuk memilih sektor,” pungkasnya.
Dapatkan berita dan informasi lengkap lainnya dengan cara klik http://hariannetwork.com













